Jumat, 17 Januari 2020

, , ,

Sejarah Hubungan Amerika Serikat dan Iran

A. Hubungan Baik Iran-Amerika Serikat

Dimanika hubungan bilateral antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terjalin baik dalam hal nuklir sejak tahun 1957. Pada masa itu Iran dipimpin oleh Mohammed Reza Pahlevi yang pro terhadap negara barat dan sekutunya. Kawasan Timur Tengah yang kaya akan sumber daya minyak membuat AS menetapkan hagemoninya pada Iran. Di lain sisi, sebagai pemenang perang dunia kedua, Iran menganggap AS sebagai penyalur keuntungan dari negara-negara barat karena pengaruhnya yang sangat kuat di dunia internasional. Dari inilah terjalin kerjasama antar dua negara tersebut. 

Untuk pertama kalinya, Iran menandatangani perjanjian kerjasama energi nuklir pada tahun 1957 untuk keperluan sipil dengan AS. Perjanjian ini berisi bantuan fasilitas nuklir pada Iran untuk kepentingan penelitian yang diberi nama Tehran Research Reactor. Dwight D. Eisenhower sebagai Presiden Amerika pada waktu itu memberikan supply energi nuklir dengan program US Atom for Peace. Melalui program ini maka terciptalah hubungan baik antar Iran-AS yang tak terlepas dengan hubungan baik antar pemerintah Iran dan AS pada masa itu. Dengan program ini AS memberi jaminan kepada dunia bahwa proliferasi nuklir yang dilakukan oleh Iran hanya untuk keperluan sipil dan penelitian. 

Pada tanggal 1 Juli 1968, Iran menandatangani perjanjian Non-Proliferation Nuclear atau yang dikenal dengan NPT (Non-Proliferation Treaty), sehingga memberikan kemudahan bagi Iran untuk mengembangkan program nuklirnya dalam kepentingan damai dan kepentingan sipil di kawasan Timur Tengah. AS kemudian memberi jalan kepada Iran dalam mengembangkan program nuklirnya setahun setelah Iran bergabung dalam NPT dengan memperpanjang kontrak kerjasama yang telah berlangsung sejak 1957 untuk 10 tahun mendatang. 

B. Krisis 1979

Setelah penandatanganan perpanjangan perjanjian tersebut, Iran membuat pernyataan resmi bahwa 10 tahun kedepan akan membangan fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir yang dimanfaatkan sebagai energi alternatif konsumsi bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik. Kebijakan yang diambil Iran untuk mengembangkan nuklir sebagai energi alternatif direspon baik oleh AS. Eratnya hubungan politik Teheran dengan Washington membuat segala kegiatan Iran yang berhubungan dengan nuklir menjadi mudah.

Hubungan bilateral yang sangat baik terlihat ketika Shah Reza Pahlevi di undang ke Washington pada November 1977 yang kemudian dibalas presiden Amerika Jimmy Carter yang mendatangi Teheran. Hubungan baik ini tidak terlepas pula pada presiden Amerika periode sebelumnya Dwight D. Eisenhower yang membantu Shah Reza Pahlevi untuk menggulingkan rezim Mossad melalui bantuan CIA. 

Kedekatan Iran dan AS yang dipimpin oleh Shah Reza Pahlevi yang selalu pro terhadap barat menyadarkan masyarakat Iran akan perubahan dan kembali mendahulukan prinsip agama. Keinginan rakyat atas perubahan pada pemerintahan Iran mulai mencapai puncaknya pada Februari 1979 dimana terjadi pergolakan di Iran dan menggulingkan rezim Pahlevi yang kemudian dikenal dengan Revolusi Islam Iran.

Setelah berubahnya kebijakan yang dianut oleh Iran menimbulkan kontra dengan AS yang mengakibatkan penarikan hubungan diplomasi AS-Iran. Sebanyak 52 warga negara Amerika dan diplomat AS disandera pada tanggal 4 Novembar 1979 oleh mahasiswa dan militan Iran yang pada saat itu menduduki kedutaan AS di Teheran selama 444 hari lamanya. Penyanderaan ini membuat Amerika menarik semua fasilitas dan bantuan yang pernah diberikan, dan juga kerjasama nuklir dengan negara-negara sekutu dihentikan. Pada tahap ini Iran mengalami kerugian hingga jutaan dolar. 

C. Embargo dari Clinton 

Bantuan research reactor yang diberikan Amerika kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya organisasi atom pertama Iran yaitu AEOI (Atomic Energy Organization of Iran) mengalami kendala dalam penyelesaiannya, untuk itu pada masa kepemimpinan Hashemi Rafsanjani menginginkan kembali dioperasikannya reaktor nuklir sebagai energi alternatif Iran karena kebutuhan listrik yang sangat mendesak di Iran, Iran melakukan dialog kerjasama dengan Uni Soviet. 

Perjanjian proliferasi nuklir Iran-Russia mendapat reaksi keras dari Amerika. Respon yang di berikan Amerika berupa penentangan dan penolakan karena khawatir jika proliferasi ini akan ditujukan untuk membuat senjata pemusnah massal. Walaupun begitu, Iran tak menyerutkan niatnya dan malah meningkatkan kerjasama nuklirnya dengan Cina dan Argentina. Dengan meningkatnya aktifitas kerjasama dan pengembangan program nuklir Iran, Amerika mengajak Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi bagi Iran. Bill Clinton yang pada saat itu menjabat sebagai presiden Amerika menginstruksikan embargo perdagangan dan melarang para investor Amerika untuk menginvestasikan uangnya di Iran.

Tuduhan Terhadap Iran

Dipasangnya tenaga UF6 dari Cina pada Kalaye Electric Company melanggar ketentuan yang telah ditetapkan oleh IAEA pada tes centrifuges yang dilakukan Iran pada 2002. Dalam proses pelanggaran terdeteksi secara sembunyi-sembunyi Iran telah mengembangakn fasilitas pengayaan uranium di reaktor Natanz dan produksi air berat di reaktor Arak yang pada sebelumnya tidak dilakukan. Selanjutnya pada 11 April 2006, presiden Mahmoud Ahmadinejad mengumumkan bahwa Iran telah berhasil mengembangkan uranium ke level 3,5% U-235 dengan menggunakan 164 sentrifugal. Hal ini menegaskan bahwa Iran telah berhasil membuat progress yang sangat signifikan dalam menguasai teknologi yang dibutuhkannya untuk 34 memperkaya uranium. Dengan kemampuan Iran yang telah berkembang pesat tentunya membuat Amerika Semakin yakin bahwa Iran memiliki niat untuk mengembangkan senjata pemusnah massal. Melihat dampak sanksi embargo yang mulai mempengaruhi perekonomian Iran secara drastis membuat Iran mulai membuka dialog diplomasi untuk program nuklirnya. Setelah beberapa jam bernegosiasi, Iran akhirnya menyetujui untuk menghentikan sementara aktivitas pengembangan nuklirnya pada tahun 2004.

Namun pada tahun 2006 diketahui Iran kembali mengembangakan produksi uranium di fasilitas nuklir Natanz. Melihat hal tersebut, dewan keamanan PBB memberi perintah resmi untuk melakukan embargo terhadap ekspor dan impor untuk memperkaya uranium dan produksi rudal balistik Iran. Dengan adanya embargo besar-besaran tersebut membuat pengembangan nuklir Iran menjadi terhambat. Selanjutnya, dalam periode pertama Obama menjabat sebagai presiden, ia memerintahkan untuk meningkatkan serangan cyber secara rahasia kepada sistem komputer yang digunakan Iran. 

Pada 29 september 2009 presiden Obama dan aliansinya menggunakan penemuan fasilitas pengayaan uranium rahasia untuk menyerang Iran. Obama berusaha menunjukkan pada aliansinya bahwa Iran secara diam-diam membangun fasilititas nuklir jauh di dalam terowongan pegunungan. Berdasarkan info dari intelijen Amerika, Obama menyebutkan bahwa fasilitas tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pengembangan senjata. Sejak 2007, Iran tercatat memiliki tingkat pengembangan jumlah inti nuklir yang meningkat sangat tajam, hal inilah yang menjadi kekhawatiran dunia internasional terutama Amerika yang mencurigai pengembangan nuklir oleh Iran didasari oleh kepentingan militer. berikut data peningkatan jumlah inti nuklir Iran dari tahun 2007 hinga 2014.

0 comments:

Posting Komentar