
Tes yang pertama aku lakukan adalah seleksi masuk PKN-STAN (Politeknik Keuangan Negara – Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). STAN adalah salah satu perguruan tinggi kedinasan yang peminatnya sangat banyak. Karena kuliah gratis dan langsung kerja, banyak lulusan SMA/SMK berlomba-lomba untuk bisa lulus di perguruan tinggi kedinasan tersebut, bahkan lulusan SMA/SMK yang sudah lulus beberapa tahun sebelumnya. Orang tua juga berlomba-lomba menyuruh anaknya bimbel yang terbaik, tidak masalah walaupun mahal, karena memang lulusan STAN dijamin sukses.
Melihat pendapatan ayahku yang pas-pasan, aku hanya bisa berjuang dengan belajar di rumah sendiri agar bisa lulus di perguruan tinggi yang merupakan naungan Kementerian Keuangan tersebut. Aku membeli buku STAN dari aku masih kelas 3 semester ganjil, kala itu bukunya jarang aku baca. Tetapi saat semester genap sekitar bulan 2, aku sudah mulai sering membahas soal demi soal STAN. Aku juga rutin melaksanakan try out 2 minggu sekali yang dilaksanakan di salah satu bimbel STAN ternama di Medan. Dari try out tersebut, aku menjumpai Riza, temanku, seorang gadis kecil yang bersekolah di SMAN 1 Delitua. Riza sangat berambisi sepertiku agar bisa kuliah di STAN, tetapi tidak bisa ikut bimbel juga karena ia telah ikut bimbel untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri. Karena sering mengikuti try out bersama, kami semakin akrab. Kami sering membahas masalah STAN, perguruan tinggi negeri, serta teman-teman SMAnya yang juga teman SMP-ku dulu.
Saat USM (Ujian Saringan Masuk) PKN-STAN, aku mendapat lokasi di Gedung Serbaguna Provinsi Sumatera Utara. Kala itu aku pergi sangat pagi sekali, yaitu jam setengah 6 pagi, karena mengingat gedung tersebut sangat jauh dari rumahku. Dengan mengenakan baju hitam putih, aku perlahan mengendarai sepeda motorku hingga sampai tujuan dengan selamat. Saat itu sangat macet karena lokasi yang digunakan tersebut di kawasan universitas-universitas di Medan yang digunakan juga sebagai lokasi ujian. Ketika sudah sampai di parkiran, aku tidak langsung masuk ke lokasi ujian, tetapi menunggu teman seperjuanganku di SMK, Yudis, yang juga mengikuti ujian tersebut. Jarum jam tanganku yang mau menunjukkan angka 7 membuat kami langsung bergegas ke lokasi untuk bersiap-siap ujian.
Saat soal ujian dibagikan, aku dengan tidak terlalu percaya diri mengisi soal demi soal. Karena memang aku sudah beberapa bulan belajar dan entah sudah berapa kali try out STAN, jadi aku banyak tahu rumus-rumus di setiap tipe soal. Beberapa jam kemudian, waktu habis dan kami harus mengumpulkan jawaban kami.
Saat pengumuman tiba, dengan benar-benar perasaan kecewa lagi dan lagi aku harus merasakan kegagalan. Aku gagal dengan apa yang sudah aku persiapkan matang-matang. Padahal aku sudah beberapa kali lulus saat try out STAN. Bahkan yang membuat aku benar-benar kecewa lagi, teman-temanku yang sebelumnya nilai try out-nya selalu di bawahku lulus ke tahap selanjutnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku membuat banyak kemungkinan yang tidak bisa mengubah keadaan.
Pertama, bisa jadi karena kertas ujianku eror di sistem komputer. Karena memang saat aku try out aku pernah eror juga beberapa kali. Kedua, aku sampai mencoba menyalahkan keadaan. Aku merasa mungkin karena aku tidak bimbel jadi aku tidak lulus. Karena temanku yang tadinya nilainya di bawahku bisa lulus ke tahap selanjutnya.
Tapi mau tidak mau aku harus berpikiran positif, aku harus ikhlas tentang apa yang telah terjadi. Allah pasti punya rencana yang lebih indah daripada aku masuk STAN. Dan aku juga bersyukur ada beberapa temanku yang berhasil mengenyam pendidikan di kampus yang telah mengecewakan banyak orang itu.
Setelah ujian STAN selesai, dengan tidak percaya penuh dengan hasil jawabanku di USM PKN-STAN yang ternyata benar aku gagal, setiap hari aku langsung belajar SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Aku harus rela ikut SBMPTN karena aku juga gagal SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), tes masuk perguruan tinggi sebelum SBMPTN. Aku bahkan bukan gagal di SNMPTN, tapi aku tidak ikut SNMPTN. Aku benar-benar kecewa dengan guru yang menyusun masalah tes tersebut. Tidak tahu alasan yang pasti kenapa aku dan sebagian temanku tidak bisa ikut SNMPTN. Masalah nilai, bukannya mau sombong, tapi bisa dikatakan nilai keseluruhanku tertinggi di kelas.
Orang tuaku sempat ingin komplain dengan pihak sekolah tentang permasalahan ini, karena memang ini benar-benar fatal. Aku merasa hasil rapotku selama tiga tahun belakangan kucapai untuk sia-sia. Tapi apa boleh buat lagi, nasi sudah menjadi bubur, pendaftaran SNMPTN sudah ditutup. Sekali lagi aku berpikir bahwa Allah mempunyai rencana lain yang lebih indah di luar sana.
Ternyata dari SMK kami tidak ada yang lulus. Karena faktanya siswa SMK yang sudah lulus SBMPTN hanya 1% bisa lulus. Mungkin pemerintah berpikir siswa SMK lebih baik langsung kerja, tidak membutuhkan kuliah lagi.
SBMPTN tidak semudah yang pernah aku pikirkan sebelumnya. Banyak orang yang sudah bimbel beberapa bulan tapi tidak lulus juga. Apalagi aku hanya seorang lulusan SMK yang pelajarannya sangat berbeda dari soal SBMPTN. Saat itu aku yang lulusan SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan tentunya ingin melanjutkan kuliah yang jurusannya sejalan dengan latar belakangku.
Tapi, aku yang takut gagal lagi ini tidak mau melawan egoku tentang passion-ku. Aku yang sempat belajar IPA beberapa kali, menyerah karena IPA terlalu sulit bagiku untuk dipelajari seorang diri. Karena keinginanku masuk perguruan tinggi dan juga tidak mau menerima kegagalan entah untuk beberapa kali, aku dengan pertimbangan yang matang memilih jurusan IPS yang aku tahu bukan bagian dari passion-ku.
Setelah berhari-hari aku belajar soal-soal IPS, aku baru sadar bahwa aku harus memilih jurusan yang tepat denganku. Saat itu aku berpikir bahwa aku ingin masuk perguruan tinggi negeri bukan berarti harus masuk jurusan yang sangat jauh dari bakatku. Itu sama saja seperti aku menjebloskan diriku sendiri ke lubang buaya.
Pilihan yang terlintas di benakku adalah jurusan yang ada di ekonomi dan politik. Ekonomi karena aku suka dengan angka, sedangkan politik karena aku suka membaca dan menonton berita, baik politik maupun ekonomi. Aku mau ambil Akuntansi, tetapi Akuntansi terlalu sulit dimasuki karena aku sadar latar belakangku bukan jurusan IPS. Aku mau ambil Hubungan Internasional karena aku suka dengan berita-berita, baik dalam negeri maupun luar negeri. Di samping itu, di HI juga ada ekonominya.
Namun, di Universitas Sumatera Utara tidak ada jurusan HI. Jadi aku harus menurunkan egoku. Aku tidak dikasih kuliah di luar kota Medan karena dipastikan akan memakan biaya yang besar untuk tinggal di kota yang tidak ada keluarga.
Saat pendaftaran SBMPTN dibuka, dengan modal baca-baca di internet, tanpa ragu aku mendaftar SBMPTN di hari ketiga pendaftaran dibuka. Aku memilih jurusan:
- Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara
- Sastra Inggris Universitas Sumatera Utara
- Sastra Inggris Universitas Negeri Medan
Beberapa minggu kemudian aku memikirkan kembali bahwa Sastra Inggris bukanlah pilihan yang tepat untukku. Bahasa Inggrisku yang tidak begitu bagus, juga Sastra Inggris yang lulusannya belum jelas masih tidak bisa diterima keluargaku. Sedangkan Ekonomi Pembangunan yang sudah sesuai denganku dan keluargaku, tetapi tidak dengan kemampuan untuk mencapainya. Aku takut gagal lagi.
Ekonomi Pembangunan USU salah satu yang tersulit untuk dicapai. Jadi dengan sok kayanya aku, yang kembali menghabiskan uang 200 ribu untuk pendaftaran SBMPTN untuk kedua kalinya. Kali ini sudah aku pikirkan matang-matang. Aku juga sudah berkonsultasi ke nenek dan kakek aku yang akan membantu keuanganku selama kuliah. Aku akhirnya dikasih kuliah di luar kota Medan, tetapi tidak boleh terlalu jauh.
Untuk yang ini aku mengambil jurusan yang aku rasa sudah sesuai dengan passion-ku. Yang kupilih saat itu:
- Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran
- Hubungan Internasional Universitas Riau
- Administrasi Negara Universitas Sumatera Utara
Aku memilih HI UNPAD karena hanya sebuah kenekatan, karena HI UNPAD merupakan salah satu jurusan dengan passing grade, penilaian SBMPTN, tertinggi di Indonesia. Sedangkan HI UNRI karena universitas yang mempunyai jurusan HI dengan akreditasi A tetapi tidak terlalu tinggi passing grade-nya, juga karena Riau berlokasi tidak jauh dari Medan.
Saat tes berlangsung, aku dengan tenang mengerjakannya karena aku sudah ikhlas apa pun hasil yang aku terima. Aku mengerjakannya dengan baik walau ada soal yang aku tidak ketahui. Setelah sekitar 2 jam waktu yang diberikan, aku mengumpulkan jawaban ujian yang terbaik menurutku.
Sekitar sebulan lebih, pengumuman SBMPTN tiba. Kala itu aku sedang menjalankan puasa Ramadhan. Saat jam pengumuman tiba, aku langsung membukanya dengan sedikit bersusah payah karena server yang penuh. Saat website bisa, dengan baca basmallah aku menulis nomor ujian dan tanggal lahirku lalu ku-login.
Saat membaca tulisan di komputerku, aku langsung refleks minum air karena panik, padahal aku di situ sedang puasa. If I remember it again, definitely I can't stop laughing, it's so funny.